PINTA HAOMASAN DAN SILAHI SABUNGAN - Budaya Batak | Suara Batak

ASAL USUL SI RAJA BATAK | SUARABATAK #BUDAYA




SUARABATAK.COM/ BUDAYA

ASAL USUL SI RAJA BATAK

Penulis : Norman Sidabutar


       Di awal peradaban  modern, era menuju berkembangan ilmu pengetahuan, manusia  mulai berpikir mencari asal usul mereka. Pencarian demi pencarian dilakukan secara berkelompok maupun perorangan melalui metode ilmu pengetahuan.

 Salah satu upaya pencarian asal-usul manusia melalui metode ilmu pengetahuan, teori Darwin menyimpulkan; “leluhur manusia adalah kera”. Bagi kaum primitif, mereka melakukan pencarian asal-usul sesuai pemahaman seadanya hingga melahirkan dogma yang menjadi mitos dikemudian hari.  

      Salah satu mitos yang diyakini kelompok masyarakat tertentu, yakni; “Raja Batak  keluar  dari sebatang  bambu lalu bermukim di Pusuk Buhit. Dikemudian hari, Mulajadi Nabolon/Tuhan (versi kepercayaan malim) menurunkan Bidadari Kayangan dari langit lalu menikah dengan Raja Batak hingga berketurunan.“

       Dogma Raja Batak keluar dari sebatang bambu lalu menikah dengan Putri Kayangan masih sulit dilupakan kalangan tertentu. Fenomena tersebut disebabkan paham kuno sudah sempat berakar dibenak para pendahulu secara turun temurun.

 Bahkan, diantara Penulis sejarah era modern, masih percaya diri menuangkan  dogma-dogma  kuno tersebut dalam silsilah rumpun marganya. 
Contoh terkini, salah satu Penulis silsilah rumpun marga tertentu menuangkan ; “istri leluhurnya, Bidadari kayangan”. Ini sungguh diluar dugaan dan merupakan tindakan irasional dan pelecehan nilai-nilai intelektual.. 

       Leluhur kita yang hidup dimasa pra peradaban modern mampu menyimpulkan bahwa; “Raja Batak keluar dari sebatang bambu lalu menikah  dengan Bidadari Kayangan”. Hal tersebut patut kita apresiasi merupakan buah dari  kecerdasan era pra peradaban modern.  Karena, pada era pendahulu kita, semuanya serba terbatas. Ajaran agama Abrahamik belum menyentuh  mereka. 

 Di suatu kawasan yang terisolir dengan ilmu pengetahuan yang sangat terbatas, yang sangat jauh dari segala perangkat tehnologi dan belum memiliki hubungan universal. Mereka dapat memberikan kesimpulan sendiri bahwa Raja Batak keluar dari sebatang bambu. Tentunya kita patut bangga akan hal itu, karena tidak banyak suku di negeri ini yang dapat memberikan jawaban atas pencarian jati diriya. 

       Di era modern ini. Sungguh tidak relevan lagi jika kita meyakini dogma lama yang mengandung mitos, dogma yang menyimpang dari prinsif-prinsif  Ketuhanan  Yang Maha Esa; Allah Sang Pencipta Segenap Alam  Semesta beserta isinya. 

Jika dogma kuno sudah tidak relevan lagi di era modern ini,  kemanakah  kita akan berpaling ?, Adam dan Hawa. Adam dan Hawa manusia pertama yang  diciptakan Allah Sang Pencipta Alam Semesta dan segenap isinya. Adam dan Hawa nenek moyang  Raja Batak, Raja Batak keturunan Adam dan Hawa.

       Dengan mengamini Raja Batak keturunan Adam & Hawa yang diciptakan Allah Sang Pencipta Alam Semesta, muncul pertanyaan lanjutan; bagaimana perjalanan keturunan Adam & Hawa dari Timur Tengah  ke Pusuk Buhit ?. 

Untuk menjawab semua itu, Penulis telah melakukan menelusuran dari berbagai sumber-sumber yang ada, lalu menganalisa hingga merangkai perjalanan leluhur Bangsa Batak dari Timur Tengah hingga ke Pusuk Buhit Kabupaten Samosir Sumatera Utara peta wilayah terkini. 

       Pada generasi ke-10 sejak penciptaan manusia pertama Adam dan Hawa, kejahatan manusia semakin besar di bumi dan  segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata. 

Bumi telah rusak di hadapan Tuhan  dan penuh dengan kekerasan, sebab semua manusia menjalankan kehidupan yang bertentangan dengan FirmanNya. Akibatnya, berfirmanlah Tuhan :
“Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka”

Selanjutnya berfirmanlah Tuhan kepada Nuh:
“Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. Buatlah bagimu sebuah bahtera  dari kayu gofir; bahtera itu harus kau buat berpetak-petak dan harus kau tutup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.”

       Sebagaimana perintah Tuhan, bahtera telah selesai dikerjakan Nuh beserta ketiga anaknya.  Tuhan memerintahkan Nuh dan Istrinya masuk bahtera, dan juga memasukkan tiga anaknya yakni; Sem, Ham dan Yafet beserta seluruh istrinya, dan juga memasukkan satu pasang dari segala hewan yang hidup dimuka bumi. Tuhan mejatuhkan hujan lebat diseluruh bumi 40 hari 40 malam tanpa henti, sehingga seluruh mahluk hidup yang ada dibumi binasa.
K
       Setelah 40 hari 40 malam, air bah surut. Atas perintah Tuhan, keluarlah Nuh beserta keluarganya dari Bahtera itu, demikian juga seluruh hewan didalamnya di keluarkan. 

 Demikian juga tiga anak Nuh yakni; Sem, Ham dan Yafet beserta istrinya, mereka berketurunan lalu melanjutkan kehidupan manusia yang diciptakan dan dikasihi Tuhan Allah, Mahluk yang paling instimewa yang pernah ada, mahluk yang diciptakan Tuhan  menirukan gambarNya. (baca Kitab kejadian)

       Pada  generasi ke-19 dari Nuh, adalah Peleg keturunan Sem memimpin di tanah Syinar yang disebut Babilonia, diperkirakan 250 tahun sebelum masa Abraham. Seluruh manusia  masih  satu bahasa. 

.KMereka mendirikan sebuah menara dari batu bata dengan tujuan menemukan Allah Bapak Sang  Pencipta Alam  Semesta ditempat yang paling tinggi yaitu  langit, yang disebut menara BABEL. Sebelum menara itu berhasil didirikan, Allah mengacaukan bahasa mereka agar mereka tidak mengerti bahasa satu sama lain. (kejadian 11:7). 

Akibatnya, mereka berhenti membangun  kota itu, dan terpencar ke seluruh bumi. (kejadian 11:8, 9). Para manusia itu berpencar bersama kelompok-kelompoknya keseluruh penjuru bumi, mereka mencari tempat untuk memulai kehidupan baru dimana mereka inginkan hingga jaman berganti jaman.

      Suatu masa di jaman berikutnya, diketahui di Tiongkok Barat  ada  sekelompok  manusia yang berciri agak  berbeda dari  penduduk setempat. Perawakan mereka  lebih besar, hidung agak mancung, namun berkulit  kuning. Pada masa itu, mereka diusir oleh suku Barbar Tartar dari tanah leluhurnya, sehingga  mereka  bermigrasi ke pegunungan Tibet.
      Dari pegunungan Tibet, kelompok itu turun ke perbatasan Burma dengan Thailand, mereka sempat bermukim di sana. “Di perbatasan Burma dengan Thailand mereka  meninggalkan  budaya Dongson, yakni suatu kebudayaan  yang mirip dengan budaya  Batak yang ada saat ini”. 

Karena merasa tidak nyaman atau masih  dikejar suku Barbar Tartar, mereka bergerak menuju arah Timur Kmer Kamboja hingga  ke Indocina. Dari Indocina, mereka berpindah sebagai manusia perahu menuju Philipina, kemudian ke Toraja  Sulawesi Selatan.
      Di tanah Toraja, mereka memulai kehidupan baru, mendirikan pemukiman baru dengan tetap berusaha mempertahankan tradisi leluhur mereka dengan mengadopsi  keadaan  wilayah setempat. Tradisi pemakaman kuno di Toraja mirip dengan  Tradisi  Pemakaman  konu di Tanah Batak, dan bentuk Rumah adat Toraja mirip dengan Rumah  adat  Batak. 

Dari Toraja, sebagian dari mereka migrasi ke Tanah Bugis Sulawesi  Selatan dan menetap  tinggal disana. Dialeg dan temperamen masyarakat Bugus mirip dengan dieleg dan temperamen masyarakat Batak permulaan. Dari Tanah Bugis, mereka masih ingin memperluas wilayahnya, sehingga sebagian  dari  mereka  migrasi berlayar ke arah Lampung lalu menetap diujung pulau Sumatera itu . 

       Dari Lampung, sebagian dari mereka migrasi ke Ogan Komering Ulu Sumatera Selatan menyusuri daratan  hingga menghuni kawasan itu. Mereka dikenal suku Komering di Lampung dan Ogan Komering Ulu. Karakter Suku Komering dan Suku Batak hampir sama, demikian juga beberapa kosa kata ada yang sama. Di Komering; bartong/kodok besar, bulu/bambu. 

Di Batak; bartong/kodok besar, bulu/bambu. Sedangkan sebagian lagi berlayar dari Lampung menyusuri pantai  Barat  pulau  Sumatera hingga berlabuh  di  tanah  Barus. Sekitar abad-XI, mereka bermukim di Barus Hulu membentuk suatu Kerajaan. 

      Lebih kurang 200 tahun mereka bermukim di Barus Hulu menganut kepercayaan Animisme. Sekitar abad XIII, salah satu kerajaan  dari  India menyerang Kerajaan Barus Hulu. Sang Raja Barus Hulu, pemimpin migran yang diusir suku Barbar Tartar  dari  Tiongkok  Barat memperkirakan mereka akan kalah  menghadapi musuh. Lalu, Sang Raja memberikan wasiat penyerahan kekuasaan pada seorang keturunan Raja bernama Pangeran Batak dengan perintah agar segera menyingkir dari Barus Hulu.

       Pangeran Batak menyingkir dari Kerajaan Barus Hulu bersama tunangannya dan keluarga  inti  kerajaan serta beberapa orang pengawal. Diperjalanan, mereka berpencar terbagi dua. Sebagian dari mereka bergerak menyusuri Bukit Barisan menuju Takengon dan Pulau banyak Aceh Singkil. 

Sedangkan Pangeran Batak dan tunangannya beserta beberapa Pengawal melanjutkan perjalanan menyusuri pebukitan kearah Timur hingga mentok diketinggian bernama Pusuk Buhit, lalu mereka  memulai kehidupan baru dikawasan itu. 

Diperkirakan,  Pangeran Batak memilih Pusuk Buhit sebagai kawasan pemukiman (Pusuk Buhit; puncak dari bukit terletak ditepi Danau Toba, diluar Pulau  Samosir,  di wilayah Kabupaten Samosir Sumatera Utara peta wilayah terkini) dengan pertimbangan  kawasan  itu  strategis  untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. 

       Sementara di Kerajaan Barus Hulu. Sepeninggal Pangeran Batak terjadi pertempuran sengit yang tidak seimbang. Raja Barus Hulu gugur bersama pasukannya ketika berperang mempertahankan kerajaannya dari serbuan tentara penjajah yang datang dari kawasan India, hingga kerajaan tersebut lenyap.

       Di Pusuk Buhit, Pangeran Batak menikahi tunangannya Putri yang berasal dari lingkaran Kerajaan Barus Hulu, yang menyingkir bersamanya  dari  Barus  Hulu ke Pusuk Buhit. 
Pangeran Batak memperanakkan; 
1. Guru Tatea Bulan dan 
2. Raja  Isumbaon. 
Dikemudian hari, Pangeran Batak disebut oleh keturunannya; Raja Batak.

       Guru Tetea Bulan memperanakkan; 
1. Raja Biak-biak, 
2. Saribu Raja kembar dengan 
3. Si Boru Pareme (putri) 
4. Limbong  Mulana, 
5. Si Boru Anting Sabungan/Siboru Anting Malela (putri), 
6. Sagala Raja, 
7. Si Boru Biding Laut (putri), 
8. Malau Raja/Silau Raja dan 
9. Si Boru Nan Tinjo (putri).


       Raja Isumbaon memperanakkan; 
1. Tuan Sori Mangaraja, 
2. Raja Asiasi, 
3. Songkar Somalindang. 

Raja Asiasi dan Songkar Somalindang meninggalkan Pusuk Buhit saat masih muda. Diperkirakan, mereka pergi ke Takengon Aceh Tengah maupun ke Pulau Banyak Aceh Singkil menemui saudaranya yang berpencar saat di perjalanan meninggalkan Kerajaan Barus Hulu kala diserang pasukan dari kawasan India.



www.suarabatak.com/budaya

Comments

  1. Dan menurut data lain.Raja Daeng Banua punya anak 3 yaitu Raja Batak ,Raja Bone dan Raja Lapung ( Dalam.Buku Orang Btak Kasar ?.)

    ReplyDelete

Post a Comment