JENDERAL POL SIGIT PRABOWO : Polri Akan Tampilkan Sosok Tegas, Namun Humanis.

Asal Usul Saragih di Simalungun - Budaya Batak | Suara Batak

 

Sumber : PARNA ( GROUP TAROMBO )






SUARABATAK.COM | BUDAYA - Asal usul Saragih di Simalungun

Penulis :  Norman Sidabutar

   Dewasa ini, Masih terdapat pemangku marga Saragih belum mengakui dirinya keturunan Raja Batak dari Pusuk Buhit, maupun keturunan Raja Nai Ambaton. Golongan minoritas ini klaim, mereka keturunan langsung orang-orang yang migrasi dari India ke Simalungun. Anehnya, belum satupun diantara mereka mampu menunjuk suatu kawasan di Simalungun sebagai bukti permulaan keberadaan leluhur mereka di Simalungun, sebagaimana yang terjadi di Pusuk Buhit kawasan leluhur orang Batak.

 Fenomena tersebut diatas sedikit menggelitik. Mereka mengaku marga Saragih tapi tidak mau disebut keturunan Raja Nai Ambaton. Sedangkan semua orang tahu bahwa Saragi’h adalah keturunan Raja Nai Ambaton. Sebaliknya, ketika kita tanya asal-usul marga “Saragih” yang mereka pangku, tidak dapat menjelaskan secara faktual.

    Kendatipun demikian. Kita tidak mungkin mengintervensi apa yang jadi kehendak mereka. Karena masing-masing orang berhak klaim asal muasal leluhurnya sepanjang tidak merusak silsilah marga rumpun Batak yang ada khususnya tarombo Parna. Yang dapat kita lakukan adalah memberikan keterangan dengan harapan mereka berubah pikiran setelah mengetahui sejarah marga Saragih di Simalungun.

     Kala itu di Haranggaol. Curu Raja Nai Ambaton anak Saragi Tua bernama Tuan Saragi memiliki dua anak laki-laki; 1. Ompu Partumpuan dan 2. Ompu Harungguan. Ompu Partumpuan pergi ke Tongging lalu menetap disana. Sedangkan Ompu Harungguan pergi ke suatu kawasan tak bertuan lalu merintis perkampungan, menikah dan berketurunan dikawasan yang dirintisnya, disebutlah Tiga Runggu Kabupaten Simalungun dalam peta wilayah modern.

    Di Tiga Runggu. Ompu Harungguan Saragih melahirkan anak bernama Nabayak. Nabayak dewasa merambah ke kawasan Simalungun induk tepatnya Desa Dolok Saribu Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun, merujuk peta wilayah terkini.

    Di Desa Dolok Saribu. Raja Nabayak berumah tangga lalu berketurunan. Keturunan Raja Nabayak memangku marga Sumbayak, mereka menyebut dirinya marga Saragih Sumbayak merujuk nama leluhurnya Ompu Harungguan Saragi. Kuat dugaan, keturunan Raja Nai Ambaton yang pertama sekali menginjakkan kaki di Simalungun induk adalah Raja Nabayak yang melahirkan marga Sumbayak.

    Mengingat pulau Samosir tandus, masyarakat sulit mengembangkan pertanian kala itu. Banyak penduduk pulau Samosir eksodus ke Simalungun demi menggapai hidup yang lebih baik, termasuk keturunan Raja Nai Ambaton. Sementara kawasan Simalungun sudah dikuasai Raja-Raja diantaranya Raja Sigaringging keturunan Tuan Pinangsori, cucu Munte Tua yang merantau dari negeri Tongging Kabupaten Karo ke Simalungun, jadi penguasa Tiga Raya. Tuan Pinangsori tiba di Simalungun induk ,pasca Raja Nabayak.
Agar dapat diterima di wilayah Simalungun, dan agar di ijinkan Raja mengelola lahan pertanian, marga keturunan Raja Nai Ambaton yang datang ke Simalungun terpaksa mengadopsi marganya jadi Saragih. Hal itu harus mereka lakukan, jika tidak, tidak akan dapat kesempatan memiliki lahan pertanian di Simalungun yang dikenal sangat tertutup bagi pendatang kala itu. Maka lahirlah marga ; Saragih Sidabutar, Saragih Sitanggang, Saragih Simbolon, Saragih Sijabat, Saragih Simarmata, Saragih Napitu, Saragih Siadari, dllsb, di kawasan Simalungun.

    Pasca runtuhnya sistem feodalisme di Simalungun tahun 1946 yang dikenal dengan peristiwa revolusi berdarah Simalungun. Marga-marga asli Samosir, Tapanuli dan Toba mulai berani mengungkap jati dirinya. Bagi mereka pemangku marga Saragih Sidabutar, Saragih Sitanggang, Saragih Simbolon, Saragih Sijabat, Saragih Simarmata, Saragih Napitu, Saragih Siadari, dllsb”, sejak tumbangnya sistem feodalisme di Simalungun berangsur kembali ke marga asal; Sidabutar, Sitanggang, Simbolon, Sijabat, Simarmata, Napitu dllsb. Jikapun masih ada diantara mereka memangku marga “Saragih”, hanya minoritas.

  Penulis lahir di daerah Simalungun terhitung 6 generasi. Turut mengalami proses perubahan sebutan marga ”Saragih” kembali ke marga asal Sidabutar. Generasi kakek Penulis, masih mengemban marga Saragih. Generasi ayah Penulis, berubah sedikit jadi Saragih Sidabutar walau tidak secara vulgar tertuang pada identitas formil. Sedangkan pada generasi Penulis, praktis hanya mengemban marga Sidabutar. Demikian juga dengan marga Parna lainnya, mayoritas diantara mereka telah kembali pada marga asal secara praktis.

Sekelumit cerita perubahan Saragi jadi Saragih.

     Kala itu disuatu kawasan di Simalungun. Tersebutlah seorang pendatang marga Saragi, ulet bertani dan bekerja. Dikala pulang dari ladang, Saragi tidak pernah berpangku tangan melenggang. Merujuk sejarah penyebaran keturunan Raja Nai Ambaton ke Simalungun, kemungkinan besar perubahan Saragi jadi “Saragih” terjadi pada pribadi Ompu Harungguan Saragi maupun keturunannya di Tiga Runggu.

  Ketika Saragi sedang memikul beban, berpapasan dengan penduduk setempat. Penduduk setempat bertanya; “ marga aha nasiam ambia ?, jawab;” Saragi...h ambia “. Hal itu terjadi karena Saragi menyebut marganya sambil terengah-engah. Kebiasaan itu berulang-ulang hingga pada akhirnya sipendengar menyebutnya Saragih secara berkesinambungan dari orang perorang. Demikian riwayat perubahan Saragi di Samosir jadi Saragih di Simalungun.

    Memang kisah diatas terkesan remeh dan guyon, boleh diterima atau tidak. Tetapi harus kita akui, dari sekian banyak kisah, hanya kisah tersebut yang dapat menguak perubahan sebutan Saragi jadi Saragih. Kecuali jika ada temuan baru, kisah diatas bisa saja gugur.

   Kembali pada asal usul Saragih di Simalungun. Dalam sejarah Raja Nai Ambaton, tidak satupun keturunan Raja Nai Ambaton bernama Saragih, dan tidak satupun marga di dunia ini terdiri dari kosa kata tunggal; “ Saragih”. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa seluruh marga Saragih di Simalungun adalah keturunan Raja Nai Ambaton yang berasal dari Pusuk Buhit. Sebutan Saragih di Simalungun sebagai hasil proses metamorfosis Saragi jadi “Saragih”, yang disebabkan faktor geografis maupun dialeg kesukuan.

    Oleh sebab itu, bagi keturunan Raja Nai Ambaton yang telah mengemban marga dari Samosir merantau ke Simalungun, kembalilah pada marga asal. Biarlah marga Saragih Sumbayak dan marga Saragih Sigaringging tetap mengemban kosa kata jamak; Saragih Sumbayak dan Saragih Sigaringging, karena dua marga tersebut lahir di Simalungun.


.www.suarabatak.com/budaya

Editor : Frans Simbolon

Comments